Sunat

Analisis Cerpen Sunat Karya Pramoedya Ananta Noer

 

 

Sunat

Penulis :Pramoedya Ananta Noer

 

 

 

Cerpen Sunat ini memilki tema menceritakan seorang anak yang ingin menjadi pemeluk agama islam sejati, tetapi dia bimbang apakah dia sudah menjadi pemeluk islam sejati atau belum, karena dia belum disunat. Pada akhirnya dia disunat, ia pun senang karena telah disunat itu membuktikan bahwa ia dapat menjadi pemeluk agama Islam sejati.

Tema dari cerpen ini sendiri tentang pencitraan dari diri seseorang bagaimana dia menilai dan memandang agama didalam hidupnya.   Dimana anak ini benar-benar ingin dianggap sebagai seorang Islam yang sejati , dia ingin di sunat dan khawatir selama dia belum disunat . kekhawatiran anak tersebut menjadi hal yang sangat penting untuk di bahas , dimana hal tersebut benar-benar berkaitan dengan hal-hal besar dan penting untuk diketahui . Anak itu membuat setiap pembaca cerpen ini berfikir apakah setiap anak lelaki yang beragama Islam akan berfikiran seperti dia dan apakah hal benar-benar bias membuat setiap anak lelaki beragama Islam akan mengalami kegundahan luar biasa seperti dia. Tentu juga pemikiran tentang keyakinan kita akan sebuah agama sesungguhnya apakah benar-benar berkaita dengan hal seperti ini. Cara memandang hidup bagi setiap orang memang berbeda-beda apalagi pandangan tentang agama , dimana agama itu merupakan hal yang paling utama dalam hidup nagi setiap orang percaya . Dan menurut anak ini dia adalah seorang Islam , tapi belum diketahui atau diakui kesejatiannya karena dia belum di sunat. Anak ini juga bias menjadi contoh yang patut dicontoh , walaupun dia masih seorang anak yang bahkan belum cukup umur memikirkan hal besar berbau agama tetapi dia memiliki pemikiran luar biasa tersebut , dimana sejatinya dia memang ingin menjadi seoang Islam yang sesungguhnya , bagi Tuhan , dirinya , keluarganya dan seluruh dunia pun tahu bahwa dia bukanlah Islam yang sekedar Islam dalam arti Islam yang dipampang sebagai agama saja tapi Islam sejati , namun pemikiran nya tentang Sunat itu untuk menjadi Islam yang sejati juga tidk seratus persen benar , sunat lebih tepatnya menjadi fakto pendukung bahwa dia adalah Islam sejati , dimana sunat yang dia lakukan bukanlah akhir dari Islam sejati yang ingin ia peroleh , melainkan awal atau gerbang permbuka baginya menjadi Islam sejati .  Latar dari cerpen ini sendiri bertempat di pedesaan. Amanat yang dapat diambil adalah cerpen ini ingin menyampaikan bahwa seorang anak bahkan dapat berfikir dewasa tentang agama , Beberapa baris dari cerita cerpen ini yang menunjukkan jalan ceritanya yaitu seperti berikut :

Tiap malam aku selalu datang ke langgar, anak – anak lainpun juga. Kita di langgar mengaji bersama yag dilakukan dari jam setengah enam sampai jam sembilan malam. Kami membayar 2 ½ sen seminggu guna membeli minyak pelita.Kami di langgar sebenarnya hanya buang – buang waktu saja, karena kami hanya bercanda, mengobrol – ngobrol, mengganggu orang yang sedang solat maghrib dan isya. Kami melakukan itu semua untuk menghindari belajar di rumah.

Aku ingin menjadi pemeluk agama Islam sejati, tetapi aku belum disunat. Aku sempat berpikir apakah bisa menjadi Islam sejati jika belum disunat? Tetapi pikiran itu aku tampung dalam otakku.

Suatu malam ayah baru pulang, ia tampak gembira. Aku sedang dikamar dibacakan cerita oleh ibu. Tiba – tiba ayah memanggil dan bertanya “Apakah kamu sudah siap untuk disunat?” Kemudian aku menjawab “Tentu yah!” Ayah bilang aku akan disunat secepatnya. Ayah akan menyunatkan bukan hanya 2 anaknya saja, tetapi anak angkatnya juga beserta anak – anaknya. Hari spesial telah tiba, 6 orang yang akan disunat duduk berjajar. Satu – satu dipanggil masuk ke ruangan, kemudian tibalah giliranku. Aku sangat takut, tetapi ketakutan itu selesai dengan cepat. Aku pun selesai disunat.Pada akhirnya dia disunat, ia pun senang karena telah disunat itu membuktikan bahwa ia dapat menjadi pemeluk agama islam sejati.

 

Pada cerpen diatas alur yang digunakan pengarang adalah alur maju. Hal itu dikarenakan dari paragraf satu ke paragraf lainnya berhubungan.Sudut pandang yang terdapat di cerpen adalah orang pertama/(aku-an). Hal ini diambil dari kalimat “Aku pun selesai disunat”

Sedangkan anak laki-laki dinyatakan sudah besar jika sudah disunat, karena dosa-dosanya sudah ditanggung sendiri.

Seperti hal yang saya katakan mengenai Islam sejati bukan berdasarkan sunat yang dia jalani tapi lebih tepatnya sunat tersebut adalah langkah pertama atau titik nol untuk mencapai kesempurnaan akan Islam sejati yang ingin dia peroleh . Dia masih harus menjalani lika-liku yang tidak mudah , karena dalam mencapai sebuah kesejatian yang sesungguhnya memang butuh usaha dimana semua akan berakhir indah pada waktunya , di setiap bagian atau hal yang kita lakukan belum tentu benar dan di titik ini kita belajar dan berusaha menjadi lebih baik , memperbaiki segala kesalahan itu , kesalahan ditambah kesalahan adalah pengalaman , pengalaman merupakan bahan utama mengetahui segala hal , hal baik maupun buruk . Untuk sekian kali , akan menjelaskan mengapa cerpen ini terasa begitu luar biasa , mungkin terlihat biasa bagi beberapa orang , tapi  keteguhan iman dari anak itu merupakan sebuah contoh kecil bagi setiap orang dalam menggapai hal besar yang mampu merubah segalanya. Menggambarkan pandangan agama di mata seorang anak , dan apakah pandangan itu sama dengan orang dewasa yang mungkin tentu pernah juga mengalami hal tersebut. Hal ini juga kembali memberi pemikiran akan suatu hal yang dianggap biasa ternyata bisa mempengaruhi hidup seseorang atau tepatnya berpengaruh bagi  hidupnya untuk kedepannya. Sebenarnya apabila diliat secara logika pemikiran si anak itu tergolong masih dangkal kesejatian akan sebuah agama , namun hati nya yang secara tulus ingin menjadi Islam yang sejati mampu membawa pembaca terhanyut kedalam kepolosan dan keinginan yang terlihat sederhana , tapi disinilah diketahui bahwa karakter si anak merupakan seorang penerus yang mampu membawa ke jalan yang benar , dengan hal kecil semua bias menghasilkan hasil tak terduga. Seperti yang banyak orang katakana mengenai cerpen in begitu juga saya bertanggapan mengenai cerpen ini , lebih tepatnya sebuah cermin . Cerpen in bagaikan cermin yang membuat setia orang sadar tahu dan sadar siapa dirinya sebenarnya , jati diri yang selama ini belum diketahui menjadi terkuak hanya dengan bercermin, cermn dalam kata melihat diri kita sendiri , siapa kita ini sebenarnya , dimana hati kita saat ini ? dimana jalan kita sebenarnya ? kemana kita akan melangkah ? dimana kita berpijak ? apakah selama ini yang kita lakukan sudah benar ? sadarkah kita bahwa semua yang kita terima bukan hanya karena diri sendiri tentu karena Tuhan Yang Maha Esa juga sudah berkehendak . Semua pertanyaan tersebut akan muncul jika kita mengambil bagian terbaik dari pemikiran sang anak tersebut , menggugah setiap orang untuk sadar apakah diri kita sudah berada di jalan yang benar , dan sudah berdiri di atas keyakinan abadi kita , agama sejati yang akan kita bahwa sampai akhir hidup kita , bukan sebagai pendamping jidup tetapi tepatnya sebagai hidup kita , karena agama itu bukanlah hal yang berdampingan dengan kita , tapi itulah cerminan diri kita. Maka amanat dalam cerpen ini tentu sangat berarti dan memiliki nilai murni dari hati seorang anak menilai agama dan kesungguhan luar biasa.

 

 

 

 

HASIL ANALISIS

 

 

Cerpen karya Pramoedya Ananta Noer ini memang sederhana menceritakan seorang anak laki-laki yang merasa gelisah karena belum menjadi Islam sejatinya karena belum disunat , namun makna dari cerpen ini ialah bentuk cermin terhadap diri setiap orang.      

Cerpen ini bisa menjadi contoh untuk setiap orang , sangatlah menarik dan menggugah pikiran. Namun mungkin karena si anak itu masih kecil maka dia berfikir bahwa dengan hanya dengan di sunat saja maka dia akan menjadi Islam sejatinya , walaupun sebernarnya dalam garis besarnya ialah seseorang di katakana sejati dalam agama ia jalani ialah dari perbuatan ataupun tindakan yang dilakukan , disertai ibadah dan menomor satukan Tuhan didalam hidup ini. Hidup dengan agama yang sejati bukan lah sebuah symbol , tapi ada didalam diri sendiri bukan untuk di umbar atau menjadi sosok fanatik , melainkan seseorang yang hidup berdasarkan kasih.

 

 

 

Oleh : Nia Karina Tarigan

mahasiswa FIB unpad 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

HELLO ! PROJECT GIRL’s

%d bloggers like this: