Pelajaran Mengarang

Analisis Cerpen  Karya  Seno Gumira Ajidarma

 

 

Pelajaran Mengarang

Penulis : Seno Gumira Ajidarma

 

 

Cerpen pelajaran mengarang ini bertema kan tentang status sosial dan arti keluarga dalam kehidupan untuk seorang anak . Seorang anak yang terlahir dengan keluarga yang berbeda dari arti kata keluarga yang sesungguhnya , dimana dia tidak memiliki seorang ayah dan hanya memiliki seorang ibu yang bekerja dijalan yang salah . Hal-hal negatif yang muncul karena kelakuan ibu nya sangat berpengaruh besar bagi mental si anak yang pada cerpen ini diceritakan masih berusia 10 tahun , dimana seharusnya dia seharusnya bisa menikmati arti keluarga yang sebenarnya sama dengan teman-teman yang seusia dengan dirinya. Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ditemukan berbagai macam setting, Hampir semua setting bersifat fisik, tetapi ada pula yang bersifat psikis. Setting yang bersifat psikis menimbulkan suasana damai yang tenang dalam lamunan tetapi ada pula yang menimbulkan suatu kecemasan.diantaranya setting waktu, setting tempat dan setting keadaan. Diantara ketiga setting tersebut, setting waktulah yang sangat dominan dalam menghubungkan alur (kejadian) satu dengan alur (kejadian) yang lain, sedangkan setting tempat berada dalam suasana dan tidak disebutkan secara jelas, tetapi msekipun tidak disebutkan secara jelas oleh pengarang, setting tempat tersebut dapat kita tangkap atau kita kenali melalui suasana yang tercipta.
Ada beberapa kutipan dari cerpen ini yang mejnadi garis penting untuk bisa dipahami jalan ceritanya yaitu sebagai berikut :
*Pelajaran mengarang sudah dimulai. Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati. Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih.

* Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci. Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain.
*Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur.
Dari kedua kutipan di atas dapat diketahui setting tempat yang berada dalam setting suasana yang diciptakan pengarang. Pada kutipan pertama, kata pelajaran mengarang, ibu guru Tati, anak-anak kelas V, meja, dan papan putih menunjukkan bahwa suasana dalam cerita berlangsung di dalam ruang kelas yang berarti setting tempat berada dalam kelas suatu sekolah dasar. Dalam kutipan kedua dapat diketahui bahwa setting tempat yang terdapat dalam setting suasana menunjukkan kejadian dalam cerita berada di sebuah rumah yang berantakan yang terdapat banyak botol kosong berserakan di mana-mana. Di sini, pengarang tidak menyebutkan tempat tersebut secara langsung, melainkan melalui setting suasana.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, dalam cerpen Pelajaran Mengarang ditemukan tiga setting yang saling melengkapi dan memperjelas satu sama lain. Setting waktulah yang paling menonnjol sebagai media perpindahan suasana dari suasana satu ke suasana yang lain.
*Maka berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluarkan asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager…
Dalam kutipan pertama dan kedua, tercipta setting keadaan yang bersifat psikis yang menimbulkan suasana tenang dan nyaman. Sedangkan pada kutipan ketiga, dari setting tersebut tercipta suasana cemas dan trauma yang dialami tokoh atas sesuatu yang dilihatnya setiap hari. Kutipan yang pertama menyatakan bahwa “…anak manis yang menulis dengan kening berkerut”, dalam kalimat ini, kata manis bukanklah arti yang sesungguhnya terasa manis, melainkan manis yang berarti tenang, tertib, atau lugu. Kutipan kedua menyatakan bahwa “Anak-anak tenggelam ke dalam dunianya” kata tenggelam di dalam kalimat tersebut bukanlah arti tenggelam yang sesungguhnya, melainkan ungkapan pengarang yang berarti menikmati. Begitu pula dalam kalimat “…berkelebatan di benak Sandra”, berkelebatan di sini bukanlah arti yang sesungguhnya untuk menyatakan benda yang tertiup angin sehingga berkelebat tetapi berkelebat yang dimaksud dalam kalimat ini

*“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton. Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka. Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.berarti terbayang.
*Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu Guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.

Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:

Ibuku seorang pelacur….

Hubungan variasi setting dengan perkembangan perubahan cerita sangat terlihat dalam cerpen Pelajaran Mengarang terlebih dalam setting waktu. Suasana demi suasana saling dihubungkan oleh setting waktu yang cenderung mundur dan maju kembali saat di akhir.
Setting suasana dapat menunjukkan watak dan penokohan pelaku yang akan dibahas dengan rinci dalam bagian penokohan dan perwatakan.

Pengarang banyak menggunakan gaya bahasa sarkasme dan personifikasi untuk memunculkan emosi sesuai dalam cerpen, sehingga pengarang hanya menggunakan sedikit penataan kata yang istimewa karena hampir keseluruhan isi cerpen menggunakan kata-kata biasa yang digunakan masyarakat pada umumnya. Dari gaya bahasa yang digunakan, juga dapat dilihat munculnya efek kerasnya kehidupan yang dialami tokoh utama dalam certita, efek kejam, dan sakit hati juga tercipta dari pemilihan gaya bahasa tersebut. Dalam penuturan pelaku, pengarang menggunakan gaya bahasa yang sangat kasar. Hal ini dilakukan oleh pengarang untuk menunjukkan karakter atau watak tokoh.

Jika dilihat dari sikap pengamat terhadap pokok pikiran yang ditampilkan dalam cerpen Pelajaran Mengarang, tema yang diangkat adalah protes atau ungkapan iba sorang pengarang terhadap keadaan sosial masyarakat kita yang sangat menjunjung tinggi derajat atau tingkatan dalam masyarakat.

 

Oleh : Nia Karina Tarigan

mahasiswa FIB unpad 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

HELLO ! PROJECT GIRL’s

%d bloggers like this: