Lelakon

Analisis Novel Lelakon  Karya  Lan Fang

 

 

 

Lelakon

Penulis : Lan Fang

 

 

Sebenarnya novel ini sangat dicerna oleh pemikiran saya Karena bagian-bagian cerita yang terlihat berat dan sulit untuk dipahami untuk orang-orang yang masih belum berpengalaman dalam dunia sastra seperti saya. Novel Lelakon dipenuhi berbagai macam tokoh yang kadang-kadang terasa nyata tapi kadang-kadang pula terasa hanya ada dalam angan-angan, dengan alur yang tidak perlu diatur secara jelas. Tempo dalam novel ini, bisa berjalan dengan cepat, bisa pula bergerak lambat, dengan bahasa yang kadang diatur dengan rapi, dan kadang tidak diatur dengan rapi pula. karya ini juga dapat dilihat dari sudut pandang psikologi dan filsafat, tentang eksistensi cermin, serta subyek yang terbelah, bak kita melihat diri dalam cermin.

Si penulis  menggelar panggung sandiwara, menempatkan tokoh-tokohnya yang memainkan sebuah cerita rekaan sang pengarang, dan ditonton oleh “sedikit penonton”, seolah penulis dengan rendah hati meramalkan bahwa Lelakonnya tidak banyak yang menonton atau membaca, “Ada gemuruh tepuk tangan yang tidak terlalu riuh karena hanya beberapa gelintir kepala yang memenuhi ruangan itu.” (hlm 259). Pada bagian ini penulis muncul di panggung dengan naskah sandiwara yang belum selesai.  Dan secara beramai-ramai dikeroyok oleh tokoh-tokoh yang dia “adakan”. Dari sini kita bisa tahu, juga dari banyak bagian dalam novel ini, penulis memakai allusion (kilatan) dari berbagai sumber bacaan dan pengalamannya.

Dalam sepanjang jalan cerita novel ini kita disuguhi membanjirnya ungkapan puitis, yang tidak mengada-ada, bahkan mengejutkan karena sangat tepat. Kita comot saja secara acak “sepi yang terasa menguliti”, “berceloteh seperti uang receh,”, “Mon ingin mendengarkan suara lain yang bukan suara manusia. Juga ingin melihat wajah lain yang bukan wajah pendusta.” (hlm 59).

Sinopsis dari novel ketika belum dibuka dan dibaca sampai akhir pun telah mencuri perhatian setiap orang yang meihat novel ini , sinopsinya sendiri yaitu sebagai berikut :

Selalu ada siang-malam, terang-gelap, hitam-putih, tertawa-menangis, itulah yang dilihat, didengar dan dirasakan setiap saat.
Entahlah itu benar atau salah.
Ketika ada petang di antara siang dan malam.
Ketika ada remang di antara terang dan gelap.
Ketika ada abu-abu di antara hitam dan putih.
Ketika ada arti di antara tertawa dan menangis.
Apakah itu benar atau salah?
Entah!
Yang pasti, itulah lelakon.

Manusia adalah makhluk yang benar-benar buruk: saling mengkhianati, saling menipu, saling memperalat, semua untuk kepentingan diri sendiri, itulah manusia. Cinta dalam arti sebenarnya seolah tidak ada, karena yang ada adalah nafsu keduniawian, dan karena itu manusia tidak memerlukan martabat. Kalau manusia tidak mampu hidup bermewah-mewah, manusia memimpikan hidup bermewah-mewah, sebab hidup bermewah-mewah adalah tujuan utama hidup manusia, sementara penyesalan demi penyesalan pada akhir kisah lebih merupakan retorika daripada kata hati. Inilah gambaran manusia dalam Lelakon, sebuah novel yang dipenuhi oleh berbagai macam tokoh yang kadang-kadang terasa nyata tapi kadang-kadang pula terasa hanya ada dalam angan-angan, dengan alur yang tidak perlu diatur secara jelas. Tempo dalam novel ini bisa berjalan dengan cepat, bisa pula bergerak dengan lambat, dengan bahasa yang kadang diatur dengan rapi, dan kadang tidak diatur dengan rapi pula.

Dalam novel ini tokoh-tokoh perkasa dalam dunia wayang seperti Yudistira,, Bisma, Arjuna dipermalukan kehidupan seksnya dengan mengungkap bawa Yudistira ternyata impoten. Bima menderita ejakulasi dini, Arjuna menderita penyakit raja singa, sedangkan Nakula dan Sadewa adalah pasangan cinta sesama/gay. Entah apa yang ada dalam benak penulis. Penulis seakan memendam kemarahan yang meledak-ledak terhadap lelaki . Selain mengungkap konflik antar tokoh-tokohnya, ada satu bagian kisah yang menurut saya paling menarik dan memberi pelajaran berharga bagi pembacanya, yaitu kisah ketika tokoh Mon berguru kepada Tongki, seorang penipu yang menjadi parasit bagi orang lain dan memperkaya dirinya dengan cara meminta-minta tanpa malu-malu. Setelah berguru pada Tongki, Mon berniat mempraktekkan ilmu agar menjadi kaya yang telah diperolehnya Namun alih-alih sukses menerapkan ilmu Tongki, Mon menemui sejumlah pelajaran berharga bahwa cara-cara yang dilakukan Tonki ternyata tidaklah sesuai dengan hati nuraninya. Tongki mengajarkan bahwa salah satu cara menjadi karya adalah dengan bersikap diam dan membiarkan orang lain yang membayar makan dan minumnya. Mon mencobanya ;
Setiap kali bila berkumpul dengan banyak orang, ia diam saja, tidak minum, tidak makan, juga tidak mengeluarkan uang. Maka orang lain akan membelikannya minuman dan menawari makan. Ketika semua selesai makan, dilihatnya orang-orang berebut mengeluarkan uang untuk membayar makanan dan minuman. Mereka saling mendahului untuk membayar satu sama lain. Cuma ia yang berdiam diri. Setelah usai, ia melihat orang-orang itu bersalaman dengan enyum lebar. Mereka membuat jalinan persahabatan dengan ikhlas….
Maka di lain waktu ia juga bergantian membayar makanan dan minuman. Ternyata kegembiraan juga mengalir di hatinya ketika ia bisa ikut bercerta tertawa sambil menikmati kudapan bersama-sama. Kehangatan itu ada ketika bisa saling berbagi. (hal 179, 180) . Atau ketika Mon hendak menerapkan ajaran dari Tongki yang menyatakan bahwa jika hendak kaya maka ia harus belajar meminta, ternyata lidah dan mulutnya menyatakan bahwa “Kenapa harus meminta bila bisa memberi? Bukankah lebih terhormat memberi daripada meminta? Dan ketika ia memberi, matanya melihat bahwa orang-orang tersenyum kepadanya. Orang-orang yang menerima pemberian dengan mata sumringah dan mata berbinar. Selain itu ternyata dengan memberi ia tidak menjadi kekurangan malah manjadi kelimpahan. (hal 180-181)

Demikian salah satu hal menarik yang terdapat dalam novel ini. Terlepas dari kegagalan saya menangkap makna dari novel ini secara kekeseluruhan, saya rasa Lan Fang tampak semakin matang dalam merangkai kalimat menjadi sebuah kisah yang menarik. Kalimat-kalimatnya mengalir dengan lancar, enak dibaca dan kerap dihiasi kalimat-kalimat yang puitis dengan metafora yang mengagetkan. Selain itu Lan Fang tak jarang juga menggunakan kalimat-kalimat yang meledak-ledak terlebih ketika mengungkapkan kemarahan dari tokoh-tokohnya hingga membuat emosi pembacanya naik turun.

Gaya penulisan yang cukup keras dan tajam merupakan ciri dari buku ini. Buku ini dipenuhi imanjinasi yang luar biasa dan kadang-kadang tidak masuk akal. Sedikit mengarah ke Semi surealis. Novel ini menceritakan atau tepatnya mencurahkan ketidakpuasan manusia dalam memainkan perannya dan selalu saja merasa “kurang” dengan segala kepunyaannya. Sehingga Bulan yang serba teratur ” mau” bertukar tempat dengan fantasi.  Gaya penulisan yang keras dan liar acap membuat saya bergidik saat mengimajinasikan setiap lakon dalam benak saya.

Walaupun sebenarnya membaca novel sedikit atau lumayan membuat saya pusing , mungkin karena konsep yang sangat bagus . Terkadang konsep yang sangat bagus membawa kita pada kebuntuan dalam menerjemahkannya secara sederhana dalam rangka menyajikan ‘makanan’ yang sedap sekaligus mudah dicerna, untuk kemudian mampu menghadirkan ‘pencerahan’ bagi siapapun yang menikmatinya.  Seperti itulah yang saya rasakan setelah membaca novel ini.

Dengan bahasa yang sangat sederhana (hampir tidak ada kosa kata sulit dalam buku ini), Penulis mampu menyedot pembaca. Begitu juga gaya bahasa yang ia gunakan, alur, plot, bentuk kalimat, semua begitu sederhana. Tulisannya ringkas, efisien dan efektif! Dia tahu benar apa-apa saja yang ‘perlu’ diungkapkan dan apa yang tidak, sehingga buku ini terkesan ringkas. Kisah yang ditampilkan dalam Lelakon sesungguhnya sederhana, tidak luar biasa, dan juga tidak dramatis. Kemahiran penulislah yang membuat pembaca meneruskan sampai akhir walaupun membuat saya sedikit bimbang dengan tanggapan akan novel ini. Namun novel ini tetap sebuah novel yang menarik dan menyergap pikiran. Novel yang seperti sebuah puisi kaya makna. Novel yang didalamnya Penulis tidak memberikan sebuah jawaban, Novel yang tanpa banyak menggurui. Penulisnya tidak memberikan sebuah kesimpulan-kesimpulan tapi justru menghujamkan rentetan pertanyaan-pertanyaan , memberikan sebuah ruang yang terbuka untuk kontemplasi pembacanya. pembaca diajak untuk menyaksikan sebuah lanskap, yang merupakan representasi dari sebuah kehidupan nyata.

Ada dunia angan-angan dan ada dunia kenyataan dalam lelakon. Ada dunia tanda tanya yang tak berkesudahan. Dengan berbagai sifat manusia yang kadang begitu ekstrim tapi memang sifat demikian memang benar-benar ada. Lelakon bercerita tentang Sebuah upaya dari para tokoh-tokohnya yang ingin memeluk mimpi-mimpi. Memeluk hasratnya bahkan memeluk semua kepedihannya.

Tokoh-tokoh dalam Novel lelakon tidak hanya mempunyai makna yang tunggal, tapi lebih kepada metafora-metafora yang memendarkan berbagai tafsir bagi para pembacanya. Ada tokoh mon, yang hidup dalam kenyataan yang menghimpit. Selalu dikejar-kejar uang setoran, hingga ia selalu berhasrat “tidur nyenyak di kasur yang memberikan mimpi indah. Bangun tidur ketika matahari menghujani kehangatan dari jendela tanda tanya.

Secara menyeluruh novel ini mengarah pada pencarian jati diri para tokoh-tokohnya. Sebuah kisah yang menceritakan secara gamblang perasaan (emosional) ”jati diri” ketika diri yang sesungguhnya harus berhadapan dengan realitas yang pahit-kejam-bengis-tiada ampun. Sebuah kisah yang apa adanya membuka-mengeksplorasi-mendudah isi hati yang terdalam, yang paling benar, yang paling jujur: hati nurani.

 

 

Oleh : Nia Karina Tarigan

mahasiswa FIB unpad 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

HELLO ! PROJECT GIRL’s

%d bloggers like this: